Menjemput Kehormatan dari Aspal Parkiran: Panggilan Solidaritas untuk Petinju Koba
Bangka Belitung, Marahtulis.Com || Ada harga diri yang sedang dipertaruhkan di halaman parkir Honda Simpang Perlang. Di sana, di atas aspal yang membara, tiga petinju muda Sasana Tinju Jalanan Koba—Muhamad Zapip, Pitra, dan Niken Amanda—setiap hari menempa fisik tanpa mengeluh.
Kini, nyali mereka akan diuji di Kejuaraan Danlanud H. AS Hanandjoeddin, Belitung. Namun, sebuah tembok besar menghadang: mereka harus berangkat dengan biaya sendiri.
Ini bukan sekadar urusan olahraga. Ini adalah tentang bagaimana sebuah daerah menghargai keringat anak mudanya yang memilih bertarung di atas ring daripada terjebak dalam kenakalan jalanan.
Bukan Meminta Belas Kasih, Tapi Dukungan Juara
Pelatih Sasana Tinju Jalanan Koba, Dedi Bhutet, menegaskan bahwa timnya tidak sedang mengemis.
Mereka hanya sedang mencari rekanan yang memiliki visi yang sama—mereka yang paham bahwa mencetak juara membutuhkan lebih dari sekadar bakat, tapi juga dukungan logistik yang layak.
"Anak-anak saya sudah memberikan segalanya. Mereka latihan di parkiran, menghirup debu, dan menantang panas. Sekarang mereka siap bertarung di Belitung dengan dana pribadi. Kami tidak meminta belas kasihan, kami menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi bagian dari sejarah kemenangan mereka," tegas Dedi dengan suara berat,jumat (17/4/2026).
Panggilan untuk Para Pemimpin dan Dermawan
Biaya keberangkatan, akomodasi, dan nutrisi selama di Belitung sepenuhnya ditanggung secara mandiri. Bagi Dedi, situasi ini adalah ujian kepemimpinan bagi siapa pun yang mengaku peduli pada masa depan pemuda Bangka Tengah. Ia menantang pihak-pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk berdiri di belakang para atlet ini.
"Kami butuh orang-orang yang punya keberanian untuk membantu. Sangat disayangkan jika petarung sehebat mereka harus kalah sebelum bertanding hanya karena urusan tiket dan uang makan.
Kami mencari bantuan untuk meringankan beban mereka, agar mereka bisa fokus 100 persen menghancurkan lawan di atas ring, bukan memikirkan utang saat pulang," tambahnya.
Investasi Nyali
Dukungan yang diharapkan bukan hanya sekadar uang, melainkan bentuk apresiasi terhadap maskulinitas dan kedisiplinan yang telah mereka tunjukkan selama latihan di Simpang Perlang. Membantu mereka berangkat adalah investasi untuk menjaga api semangat anak muda agar tetap berada di jalur yang positif dan berprestasi.
Ditengah keterbatasan, mereka tetap melangkah. Siapa pun yang tergerak untuk menyokong perjalanan ini bukan sekadar pemberi bantuan, melainkan saudara seperjuangan yang ikut serta menjaga kehormatan Koba di tanah Belitung.
(DPD Lembaga Investigasi Negara Babel)


Tidak ada komentar