Header Ads

‎Bantah Tuduhan Intimidasi dan Senjata Api, HFZ Beberkan Kronologi Insiden di Jalur Bahar ‎

Jambi • Marahtulis.Com || Terkait pemberitaan dugaan intimidasi serta penggunaan senjata api saat penyetopan mobil pengangkut minyak di wilayah Sungai Bahar, pihak yang disebut dalam pemberitaan akhirnya memberikan klarifikasi dan membantah tuduhan tersebut.

‎HFZ menjelaskan, peristiwa itu bermula pada Minggu malam ketika dirinya menerima telepon dari seorang Kepala Biro media yang meminta bantuan untuk menunjukkan jalan menuju wilayah 51 Sungai Bahar. Menurut keterangannya, kedatangan mereka ke lokasi bukan untuk melakukan penyetopan mobil minyak ilegal, melainkan membantu pencarian seseorang yang disebut memiliki utang sebesar Rp30 juta kepada keluarga rekannya.

‎“Saya dihubungi Kabiro media untuk membantu menunjukkan jalan ke wilayah 51 Sungai Bahar karena sepupunya sedang mencari seseorang yang meminjam uang dan belum dibayar,” jelas HFZ.

‎Dalam perjalanan menuju lokasi, tepatnya di kawasan tambang batu bara, rombongan mereka berpapasan dengan sejumlah mobil yang diduga mengangkut minyak ilegal dari arah Sungai Bahar. HFZ mengaku dirinya bersama rekan-rekannya sempat mencoba bertanya kepada para sopir, namun kendaraan tersebut tidak berhenti.

‎“Saat kami mencoba bertanya, mobil tersebut tidak mau berhenti bahkan diduga hampir menabrak kendaraan kami,” ujarnya.


‎Ketegangan disebut berlanjut ketika rombongan tiba di kawasan tanjakan Aloho. Menurut HFZ, mobil yang mereka gunakan diduga dilempar oleh salah satu sopir mobil minyak ilegal tersebut.

‎Dalam situasi itu, seorang anggota TNI bernama Sertu Aditia yang disebut sedang bersama rombongan turun dari kendaraan untuk menanyakan alasan pelemparan tersebut. Namun, menurut pengakuan HFZ, anggota TNI tersebut justru diduga langsung dikeroyok oleh beberapa sopir di lokasi.

‎“Sertu Aditia sudah mengatakan bahwa dirinya anggota, namun mereka tidak peduli dan tetap bertindak anarkis,” katanya.

‎HFZ juga membantah tuduhan adanya intimidasi maupun penggunaan senjata api untuk menghentikan kendaraan. Ia menilai informasi yang beredar perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

‎Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait insiden tersebut. Masyarakat berharap pihak berwenang segera melakukan penyelidikan menyeluruh agar fakta sebenarnya dapat terungkap secara jelas dan berimbang. (Sonia Benzola) 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.